Kamis, 07 Februari 2013

Lembaran Kertasku Part II

Ditengah kesendirianku mencoret lembaran itu dengan tinta hitam yang tersisa. Aku sempat berfikir untuk mencari sosok lain yang bisa memberiku tinta warna lain. Namun, aku tak bisa, aku tak sanggup. Bagiku tak ada tinta warna secerah tinta warna miliknya.

Aku tak sanggup bila melihat  tinta warna  orang lain yang mencoret lembaran kertasku berikutnya. Aku hanya ingin tinta warna darinya. Bukan dari yang lain.

 Sejak aku kehilangan tinta warnaku, aku mulai memutuskan untuk tetap berada di dalam istana sederhanaku. Istana yang membuatku nyaman. Istana sederhana yang menjadi saksi bisu kesendirianku.

Sesekali aku mencoba untuk keluar dari istana sederhana itu. Dan saat aku keluar, aku merasakan kesegaran bau bau dedaunan yang menyapaku pagi itu. Walaupun daun daun menyapaku dengan indah tapi hatiku tetap merasa hampa. Karea aku tak bisa melupakan tinta warnaku yang hilang. Aku berharap dia datang dan membawa tinta warnanya untuk ku.

Sementara mereka berdua , sebagai orang yang penting dihidupku hanya bisa melihat senyum palsuku. Mereka tak tahu bahwa hatiku sedang menangis. Menangis karena mereka telah membuang tinta warna itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Electricity Lightning